Jenuh

"panggil saja dia jenuh, sebuah partikel yang bergerak bebas tanpa disadari banyak hati yang Ia maki sendiri walau mencintainya. Ia bersikap dingin dan tak suka membalas apapun yang angin sampaikan. Baik itu hujan, cerahnya matahari ataupun bintang yang bersembunyi. Tapi kali ini sebut saja Ia JENUH karena Ia kerap kali menamakan dirinya titik jenuh. Karena dirinya ternyata selalu diliputi kejenuhan,mlantas apalagi yang bergerak jenuh? Minyak jenuh dalam tubuh? Oh jadi itu kau? Diam tapi membunuh."

Langit tak akan membiarkan bintang sendirian, begitupun hati yang tak ingin dibiarkan sendirian. Dan menurutku semuanya sudah memiliki takdir untuk menjadi jenuh, salah bukan menjadi jenuh melainkan menjadi lebih baik. Dan jika kamu yang Diana berkata jenuh. Kau salah besar. Karena jenuh berarti lemak dan kau berarti diam, pantas. Iya kau minyak. Perlahan aku tata kembali setelah alasan terlalu baikmu dan kali ini harus melihat yang sebenarnya tentang jenuhmu? Perempuan lainmu? Wah hebat. Tidak ingin aku hitung, tapi kali ini membacanya sendiri membuat sekeliling pingsan. Membaca itu dan ajaibnya kau tidak merasa bersalah menunjukkan ketidak sopan mi untuk berakhir dengan jenuh, ah lemak.
Ketika bulan ke4 jenuhku memulai.mdan seluruh temanku tidak setuju dan membiarkan aku untuk pasrah daripada menelan pesan yang ak kirim padamu sendirian tanpa balasan apapun. Tapi tidak denganku. Berusaha melawan jenuhku meneruskannya dan saya harap ini yang terakhir. Tapi ketika aku mempertahankan jenuhku. Dan kau tidak sama sekali. Kau menyerah dengan jenuhmu dan hidupnkecilmu . Harusnya aku yang bilang jenuh. Jenuh ketika kau kadang tak pernah membalas pesan singkatku, menerima panggilanku, membalas senyuman halusku, atau sekedar mengucap atas kemenanganku di lomba kemarin. Dan kamu tidak. Aku jenuh harusnya. Tapi aku diam. Karena di dalam hati kecilku kadang berkata ini yang terakhir dan semua mimpiku terwujud denganmu. Lalu? Harusnya aku yang berkata jenuh bukan kamu.
Dan mungkin kau jenuh dengan sikapku, maaf kali ini untukmu musim keduaku. Aku baru saja merasakan jatuh cinta. Pelan namun berusaha. Karena lelah dipermainkan atau lelah menunggu.lalu kali ini sikapku salah? Kenapa tak bilang? Aku masih 16 tahun kalau itu. Tak perlukah kau untuk ak beritahu atau sekedar mengingatkanmu untuk solat di hari Jumat? Sepertinya tidak. Atau kau tak suka dengan perempuan yang selalu suka mengirimkan makanan dan sesuatu yang selalu Ia buat sendiri? Sepertinya juga tidak. Atau dengan perempuan berjilbab dan tak pernah memperlihatkan cacat nya? Rambutnya yang terurai rapi atau berdandan bak putri? Pantas tidak. Pantas kau jenuh pantas kau diam saja. Dan harusnya dari dulu aku tidak pernah terjatuh padah dua buah apel yang berdampingan. Salah.
Dan aku merasa bodoh? Tidak. Harusnya kamu yang merasa jenuh kembali. Karena sesuatu yang diabaikan begitu saja akan terlepas dari diam. Dan yang selalu diam akan di dalam lingkaran ya saja. Dan kamu tak mau berusaha apapun. Minyak.
Dan tahu bagaimana sakitnya dibeberkan untuk ditulis dalam blog ini? Ya itu rasa sakitku dengan tulisan mu. Ternyata menyakitkan.

Komentar