dibalik benteng surosowan (re : 2011)
Sejak dia hilang tiba-tiba, 2
tahun lalu. Aku pikir itu adalah akhir dari segalanya. Namun ternyata aku
salah. Di balik Benteng Surosowan-Serang, kau muncul dan kembali
menggetarkan semua perasaan yang sempat mati.
****
Pagi itu langit begitu cerah
tersenyum. Dihiasinya embun yang berteteran di sekitar Benteng Surosowan karena
bekas hujan yang turun semalam. Tampak reruntuhan benteng yang masih kuat bekas
peninggalan Belanda yang terbuat dari bata dan karang dan sampai saat ini masih
bisa kita lihat di Banten lama. Udara pagi ini terasa sangat sejuk seperti perasaanku kini, setelah 2 tahun
tidak pernah melihat dia, dia yang pernah membuat aku selalu menunggu senyumnya
dibalik hari atau dia yang selalu aku harapkan . Hari ini tidak seperti biasanya,
di pagi ini yang aku ingin lakukan adalah berjalan-jalan sendiri menikmati pagi
diantara Benteng Surosowan. Tapi yang aku lihat pagi itu bukanlah sekumpulan
orang yang berbondong ingin berjiarah atau sekedar berfoto di benteng Surosowan
melainkan sesosok laki-laki tinggi dan “agak” besar sedang mengatur lensa
kameranya dan siap untuk mengabadikan gambar disekitar Benteng Surosowan dan
modelnya. Sosoknya mudah sekali untuk diingat. Setelah 2 tahun lamanya dia
menghilang dan kini ia datang kembali. Pagi itu matahari pun bersinar cukup
terik lalu diam-diam menyoroti kami yang sesekali saling menatap wajah. Mataku tertuju
pada satu poros diujung celah itu, dia yang tak pernah aku lupakan. Namanya Tarra
seorang yang wajahnya selalu aku kenal dan selalu membayangi setiap hariku lalu
dia menghilang dan kini kembali lagi. Aku hanya bisa terdiam pasrah tanpa
kalimat dan kau menatapku begitu tajam.
****
Banten, 3 Agustus 2009 - 2 tahun
lalu
Dulu aku dan Tarra berkenalan lewat
pesan singkat. Dengan pertemuan pertama, menyatakan cinta lalu menghilang bagai
ombak yang berlalu. Dia bisa menghubungiku karena nomerku tertulis pada uang
kertas pecahan seribu rupiah yang dia dapatkan sehabis membeli minuman di
warung dekat rumahnya. Dan akhirnya dia bisa menghubungiku, padahal kita tidak
pernah saling mengenal apalagi bertemu. Dari pesan singkat itu kami bertukar
cerita dan akhirnya memilih untuk bertemu agar bisa melihat siapakah diri kita
masing-masing. Dari awal pertemuan itulah sebuah perasaan itu timbul
sebagaimana rasa seorang perempuan pada laki-laki yang baru dikenalnya. Nyata
dan itu semua berlangsung singkat. Rasa ini tiba-tiba menghampirkui setelah 16
tahun tidak pernah jatuh cinta, yaa jatuh cinta. Dan ketika ulang tahunku yang
ke 16 dia juga mengirimkan sebuah foto apel yang diukir dengan lilin berbentuk
angka 16 diatasnya dan sebuah rekaman suara yang diucapnya untuk memberikanku
doa tulus. Dari malam itu aku merasa seperti manusia paling bahagia karena kado
yang aku terima bukan berupa barang atau ucapan biasa tapi sebuah foto yang aku
bisa lihat ketulusannya dan bagaimana dia membuatkannya untukku. Seminggu
setelah hari ulang tahunku itu berlalu, dia dengan lantangnya menyatakan cinta
tapi bukan meminta untuk menjadikan aku sebagai pacarnya tapi sekali lagi hanya
menyatakan perasaan, tidak lebih. Sebagai seorang wanita aku merasa terlalu
dalam dan ternyata aku juga diam-diam jatuh hati padanya. Aku hanya bisa
memendam perasaan setelah kejadian itu, memendam jika aku juga merasakan hal
yang sama hanya memendam berarti jatuh cinta sendirian. Dan yang aku bisa hanya
sebatas menggapai punggungnya saja atau sebatas cakrawala yang aku imajinasikan
untuknya. Dan sampai saat ini dia tidak pernah mengungkit hal itu kembali, lalu
dia tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Entah kepenjuru mana ia pergi
dan bersembunyi. Entah dimana dia harus menghilang dan menjauhi aku sampai ini
diam-diam memendam rasamu. Lalu sampai kapankah kita akan bertemu dan bersapa
kembali seperti kemarin?. Dan hari itu aku tersadar, bahwa aku kita seorang yang
menunggu dan kali ini aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta sendirian. Semua kenangannya
hanya tertata rapi di sudut ruangan diantara tumpukan kotak kecil tanpa penutup
yang dibiarkan berdebu. Aku tahu, kali ini aku akan menyimpannya. Dan pada dasarnya
kenangan itu tidak akan kemana-mana dan abadi.
Lekat
pada ingatanku, Tarra adalah seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di
Untirta yang sangat menyukai fotografi. Seorang yang selalu menemaniku ketika
tidak ingin tertidur lelap, seorang yang bisa untuk berbagi cerita dan seorang
yang selalu mengantarkanku kedalam mimpi indah. Tanpa disadari berawal dari
sebuah nomer yang tertulis di uang kertas seribu rupiah lalu aku bisa mengenal
Tarra lebih jauh dan sampai akhirnya aku juga merasakan yang harusnya tak aku
rasakan ; jatuh cinta sendirian.
****
2 tahun berlalu
dan kini aku melihat sesosok bayangan hadir dihadapanku sambil menatap mataku
dalam. Dia kali ini bukan sekelebat bagai bintang jatuh melainkan gerhana bulan
yang muncul perlahan. Pagi itu aku merasakan darah perlahan berhenti mengalir,
suara angin kian berhembus kencang dan aroma kacang tanah yang baru direbuspun
ikut meramaikan isi hatiku. Ya perasaan 2 tahun lalu yang sempat aku kubur kini
datang, kembali hadir pada bayangan yang aku lihat sekarang . tepat dihadapanku.
Otakku mulai memutar lagu-lagu sendu tentang perasaanku yang kini mulai datang
kembali sembari membuka kenangan lama. Datang tiba-tiba lalu kembali dengan
perasaan yang sama seperti 2 tahun silam, hanya aku yang merasakannya tapi
mungkinkah dia juga merasakan? Entahlah. Aku hanya bisa diam tanpa kata sembari
menatapnya lekat-lekat, mencium aroma parfumnya dan melukis wajahnya yang dulu
tanpa perbedaan. Dia seorang fotografer
seperti dulu tapi sekarang berbeda, dia kini bersama seorang perempuan
cantik, tinggi dan terlihat anggun di lensa kameranya. Perempuan dengan rambut
hitam yang terurai panjang di sinari
matahari pagi diantara kulit kecoklatannya yang bersinar.
“Hey!”.
“Eh, iya”. Aku
hanya bisa menjawab sambil tersenyum malu.
“Gak nyangka ya
kita bisa ketemu lagi disini, kamu masih kaya dulu memakai jilbab dan cantik”.
Pernyataan tadi
sempat membuat pipiku sedikit memerah membuat darah di setiap lintasannya
perlahan berhenti seketika. Raut wajahnya, bahasa tubuhnya, dan suaranya yang
merdu masih lekat dipikiran sembari berbayang-bayang akan ada kejadian apalagi
setelah pertemuan ini, semoga.
“Eh, iya
makasih. Kamu juga masih kaya dulu ya masih jadi fotografer handal hehe”.
“Bisa aja kamu
haha. Oh iya lagi ngapain kamu disini? Jadi tukang bersih-bersih di sini ya?
Haha”.
Tawa itu masih
saja seperti dulu, masih renyah dan tulus. Suara tawanya itu kini membuatku
agak lebih merindu daripada dulu. Nada suaranya masih terdengar merdu di telinga
sembari menari-nari di pikiran.
“Haha…baru tahu
ya kamu? lagi pengen jalan-jalan aja sendiri kesini, sendirinya ngapain?”.
Tahukah kamu
kenapa aku pergi kesini pagi ini? Karena aku merindukanmu, karena tempat inilah
yang sering kamu tunjukkan padaku ketika kamu sedang merindukan Mamamu, mamamu
yang sangat kau cintai tapi dia sangat jauh darimu. Tempat dimana kamu bisa
menyendiri dan mengenang berjuta kenangan, sama seperti aku sekarang. Sendiri,
berjalan-jalan kecil sambil membawa kenangan, kenangan dirimu.
“Ini lagi
iseng-iseng aja maen kesini sama temen terus dia minta di foto deh hehe”.
“Oh, yaudah aku
duluan ya mau muter-muter dulu sambil
nyari makan belom makan nih hehe”.
“Gimana kalau
aku sama temen aku ikut cari makan? Belom makan juga nih laper haha”.
****
Pergantian pagi menjadi siang
dengan diiringi semakin teriknya matahari. Matahari berada tepat diatas kepala
dan menandakan pagi telah dimakan oleh siang. Udara siang ini semakin membuatku
untuk mencoba kembali pulang tanpa ada pertemuan ini dn tanpa sedikitpun
terbayang dia. Tapi, mana mungkin? Pulang lalu melupakan kejadian hari ini? Aku
tidak bisa, aku tidak bisa. Aku lihat lagi perempuan berambut panjang itu
sambil menghabiskan sisa minuman di gelas. Wajahnya manja dan sangat menarik,
riasannya anggun dan terlukis riasan pipinya yang tirus samar membuat wajahnya
begitu segar. Tapi siapakah dia? Apakah perempuan itu adalah kekasih Tarra?.
“Eh Ta aku pulang dulu yaa, aku ada
pemotretan lagi nih see you yaa makasih buat hari ini udah jadiin aku fotomodel
haha”.
“Eh iyaa Mona hati-hati yaa,
sama-sama see you too”.
Perempuan itu pergi meninggalkan
kami berdua ditempat duduk tadi dibawah pohon besar dekat benteng Surosowan.
Angin berhembus sangat kencang seperti ingin berlomba dengan suara jantungku
yang kian lama kian cepat. Ternyata perempuan itu bukan siapa-siapa Tarra dan
mereka hanya sebatas seorang fotografer degan modelnya tidak lebih. Lega sekali
mendengar semuanya itu ternyata perkiraanku sedari tadi salah. Bayangan tubuh
semakin terlihat menandakan makin tingginya juga matahari siang ini. Kami
berdua hanya saling menatap tanpa bicara satu sama lain. Dan aku hanya menyedot
gelas berisi es batu yang sedari tadi sudah habis.
“Itu minumannya
udah abis kali yaa”
“Eeeeh iya iya”
Tatapan matanya
penuh dengan canda yang dapat membuat seisi kepalaku tertuju kepadanya dan
hanya kepadanya. Apakah harus aku tanyakan? kemana sajakah dia selama 2 tahun
menghilang? Dan haruskah aku menceritakan bagaimana perasaanku dan bagaimana
penantianku selama 2 tahun hanya untuk menunggumu, ya hanya menunggumu untuk
datang kembali member pertanda.
“Kamu tuh masih kaya dulu ya, pasti
selalu diem kalo aku ga ngomong haha”. Tarra tertawa lepas sambil membelai
kepalaku dan membuatku bersender di bahunya.
Aku merasa sangat nyaman kali ini,
merasa sangat di jaganya. Dia kali ini membuatku merasa bahwa hari ini adalah
hari dimana Tarra membalas kepergiannya selama 2 tahun itu.
“Yaa bukan diem tapi bingung aja
mau ngomong apa, lagian kamu tuh perginya kenapa ga sekalian selamanya aja?
Pergi diem-diem terus dateng lagi” Gerutuku kesal tapi senang.
“Emangnya kamu ga kangen ya sama
aku? Haha kalau aku pasti akan selalu kangen sama kamu. Maafin aku ya harus
ngilang tiba-tiba”.
“Terus aku harus bilang apa
sekarang ? bilang kalo aku juga kangen banget dan aku selalu nunggu kamu
pulang?”.
“Hahaha kamu ga perlu kasih tahu
itu semua, karena aku yakin kamu juga kangen dan pasti nungguin aku”. Tawanya
sambil membelai kepalaku sekali lagi.
Siang ini aku merasa seperti sedang
menari-nari di angkasa sambil membawa setangkai bunga mawar untuk aku beri
kepada seseorang yang telah datang kembali dengan tiba-tiba di belakang Benteng
Surosowan. Dia masih seperti dulu, masih sama dan suaranya pun masih bisa aku
rasakan di lubuk hati untuk meredam semua amarah dari penantianku. Ya, dan kini
dia mengatakannya, kata yang sangat ingin sekali aku dengar dari 2 tahun kemarin
sampai sekarang. Penantianku di balik benteng Surosowan, benteng peninggalan
Belanda yang berdiri kokoh di tanah Banten. Penantian yang tidak mengecewakan,
dan penantian yang tidak pernah sia-sia. Percayalah hari ini, esok dan sampai
saatnya itu aku akan berusaha untuk melukis cerita di hari-harimu dan
percayalah bahwa aku juga ingin sekali menjadi bagian dari pelangimu.
Langit berubah menjadi biru pekat gelap
dan timbul tetesan berlian air membasahi tanah di sekitar benteng Surosowan.
Kami berdua dibalik benteng Surosowan, di bawah tirai hujan dengan semua
kenangan yang di campur menjadi satu. Cinta. Di balik benteng Surosowan aku
temukan kembali dia yang telah lama pergi meninggalkan semua kerinduan dan di
balik benteng Surosowan aku melukis pelangi kembali dengan warna yang lengkap
dan pelangi itu, sebut saja Tarra. Seperti sejarah Surosowan, aku dan kamu juga
semoga menjadi sejarah yang akan selalu dikenang hanya didalam hatiku. Untukmu
pelangiku yang sempat hilang (*)
Komentar