serupa "mata"
kali ini yang aku lihat bukan sekedar mata yang menujuj satu titik, melainkan mata yang beriringan dengan datangnyha hujan malam ini. seolah mengungkap segala yang ingin teraih atau semua yang ingin tercapai. butuh waktu lama untuk menghentikan "mata" ini diam. menghentikan setiap gerak "mata" ini pertekuk lutut di hadapan pasrah. saya bukan manusiak biasa yang menganggap dirinya biasa, saya luar biasa tapi saya punya hati. hati yang tertukar dengan abu, dibakar, diterbangkan, sehingga begitu saja kau bisa meniupkannya jauh dari segi pandanganmu, begitu saja. terimakasih. walaupun ada yang lain pernah jatuh di sini, tapi "mata" kali ini bukan sekedar mata yang melihat sedikit, melainkan mata yang mengecil sampai aku berhenti untuk meraih sebuah asa diatas sana. dan karena "mata" itu aku tahu bagaimana caranya menjadi diam, tanpa sarana untuk bicara. mata itu pembaca setia blog ini. ah sudahlah mata terang benderang yang saya nantikan, mungkin suatu saat nanti kamu yang sedang membaca ini, memang "mata" yang menjadi pecinta sejati dari suatu peradaban yang saya cintai. karena di suatu saat itu kita pasti berbeda.
Komentar