Pembantaian UI
*Kalau
setiap hujan itu impian dan kalau setiap pelangi setelah hujan itu tanda
terkabulnya impian, boleh saja kita hanya berharap hujan turun dengan derasnya
lalu menunggu sampai matahari bersinar sangat terik dan melukis pelangi dikala
hujan masih ada.*
Tapi kini
berbeda, kali ini kita di hadapkan dalam dunia nyata, dunia yang mengharuskan
kita bukan hanya bermimpi tapi berusaha sampai hujan membawanya kembali ke bumi
lalu kita dapat melihat hasilnya, pelangi. Kalau saja setiap mimpi kita selalu
terbawa hujan walau kita tak pernah berusaha sedikitpun, dan melihat hasil yang
memuaskan. Dipastikan generasi yang akan keluar nantinya bukan berguna karena
hasilnya melainkan sebatas mimpi dan diam saja. Sama seperti impian kecilku
yang terselip diantara gedung tinggi dan jaket kuning itu. Terselip diantara
ribuan harap untuk berlindung di bawah payung bersama orang-orang berjaket
kuning dan berpayung kuncup pohon . Bermimpi itu bukan hal yang gampang dan
sepele melainkan kita yang sedang berimpi pun harus memiliki kepandaian dan
usaha yang kuat untuk berimajinasi selebihnya tidak akan bisa bermimpi. Sama
halnya seperti berusahha masuk kedalam suasana baru dan kegiatan baru tapi
tanpa berusaha, kita sedikitpun tidak pernah menjapatkan hasilnya nanti. Ada
kalanya sesuatu yang ingin di raih itu bertolak belakang dengan takdir yang di
gariskan untuk kita, tapi benang takdir itu bisa kita rubah dengan usaha kita
sendiri dengan pencapaian yang tak sedikit juga dengan mimpi. Dipastikan takdir
itu milikmu selamanya.
Membantai
sebuah yang “katanya” kampus impian semua orang, termasuk saya. Bukan hal yang
mudah. Bukan juga hanya sebuah pembantaian masal yang dilakukan sekelompok
remaja berbadan besar untuk menghancurkan sesuatu. Tapi ini lain, ini sebuah
mimpi dari pencapaian selama ini dengan menunggu selama 10 tahun semenjak sekolah dasar. Dann baru kali ini
saya tahu, bahwa kampus impian saya berada di depan mata dan diiringi dengan
jembatan pelangi. Pembantaian ini di dasarkan oleh perasaan yang cukup kuat
semenjak kecil dan kepuasan tersendiri untuk berlindung di bawah kuncup pohon
yang berbalut makara itu. Makara kuning yang mengeluarkan air mancur. Kampus
ini telah menjadi primadona semenjak lama dan menjadi impian terberat setelah
lulus dari SMA. Bukan hanyha sebagai impian melainkan titik berat dimana
pijakan kaki setelah kelulusan nanti.
Dari
sebuah yang “katanya” kampus impian ini, telah mencetak berbagai macam profesi
yang terlibat penting didalam kemajuan bangsa. Kemajuan dalam semuaj bidang
juga dalam lapangan kerja yang mereka sediakan untuk mereka yang belum memiliki
pekerjaan. Impian itu bukan sekedar ingin masuk karena kuning dan kerennya
melainkan impian karena titik tuju sejak dulu adalah kampus berdarah kuning ini.
Darah yang mengalir karena kerja keras mereka yang berada disana, darah yang
mengalir deras karena kekuatan dan usaha dari bathinnya dan juga darah mengalir
bak riwayat yang tak pernah padam. Bagaimana tidak kau bisa bangga dengan
langkah kaki kecilmu lalu kau berlindung di bawah kuncup pohon itu sambil
memakai jaket kuning kebanggaannya?. Menjadi impian bukanlahn hal mudah, dia
butuh kekuatan super istimewa untuk bangkit dan butuhn orang-orang yang peduli
dan berusaha mendapatkan yang terbaik. Dan aku ingin menjadi salah-satunya
disana. Menjadi manusia yang beradab dan memiliki impian kecilnya. Walau dulu
pernah terkubur.
Dia
menjadi impian bukan karena dia bisa bicara dan membanggakan wujudnya.
Melainkan pengajaran dan siswa yang mampu bersaing secara logis tanpa harus
bersaing dengan cara berfikir. Dia impian karena mampu membuat kami terpukau
karena orang yang di dalamnya dapat menjadi hebat. Begitu pun juga saya, saya
ingin menjadi hebat tanpal harus menjadi manusia super yang memiliki kekuatan ,
berfikir logis saja sudah cuku apalagi diterima di kampus impian. Hanya itu.
Tak lebih.
Ini
impian bukan sekedar impian menjadi seorang super hero yang siap membantai
semua di hadapannya dan melawan kejahatan. Tapi melainkan pembantaian yang
sebenarnya ketika itu tak pernah terkabul. Bermimpi membantai bukan sekedar
bermimpi mendapatkan makanan yang banyak melainkan bermimpi untuk dapat
besekolah di kampus impian sambil tetap memainkan mimpi sampai dia benar-benar
habis untuk keperluan dan menjadikan aku seseorang yang benar-benar hebat.
Kampus itu kampus impian. Kampus yang berusaha mengabulkan kecintaankuj kepada
sebuah kuning yang terpendam atau
kejadian lampau ketika penyakit menghampiri dan sampai saatnyha tiba untuk pertama
dan terakhir kalinya aku harus menang dan berusaha membantai kuning itu.
Mungkin sedikit berlebihan ketika aku
menulis judul ‘Saatnya Membantai UI (Universitas Impian)’, tapi perasaan
membuncah dan motivasi yang luar biasa itulah yang kurasakan. Aku ingin benar-benar membantai
kampus kuning itu. Ya, kampus impianku, tapi aku mendaftar di sana pun belum.
Tapi, pertarungan itu belum dimulai, tapi aku tidak sabar menunggu hari itu.
Biarlah, aku sedikit berlebihan dengan itu memang. Tapi pelan, aku mulai
mendapatkan hikmahnya. Dan mendapatkan sebuah impian kecil untuk mendapatkan
impian yang lebih berat.
***
Komentar