Menjamur Dunia Lewat Tulisan
Profil dan Peran
Komunitas-Komunitas Lokal di Provinsi Banten
Mempengaruhi dunia bukanlah hal yang
sangat mudah. Apalagi sampai mengubah seisi dunia seperti apa yang kita
inginkan. Dengan kebersamaan untuk mengubah dunia dan memiliki tujuan yang sama
membangun peradaban baru yang layak
dihuni. Semangat meledakkan ide dengan segaris pena dalam kertas dan beribu
karya yang harus terus di asah sampai nanti pada saatnya mereka akan meledak
sebagai calon generasi yang unggul. Dari keinginan luar biasa yang dipikirkan
oleh seorang Heri Hendrayana Harris yang kini akrab disapa Gol A Gong yang bermimpi
memiliki gelanggang remaja ini akhirnya terwujud dengan didirikannya komunitas
kesenian Rumah Dunia. Komunitas semacam ini adalah impian Gol A Gong beserta
temannya Toto ST Radik dan (alm) Rys Revolta. Komunitas ini berada di tahanh 1.000 meter persegi di belakang rumahnya di
Komplek Hegar Alam, Ciloang Serang, Banten yang sudah berdiri di ranah Banten di
tahun 2002 yang masih berjaya sampai hari ini. Keinginan kuat seorang Gol A
Gong yang mendirikan komunitas kesenian Rumah Dunia ini sangat berpengaruh
besar terhadap dirinya maupun lingkungan sekitar. Berawal dari keinginan
remajanya sampai hari ini yang bisa mewujudkan rumah magisnya itu dan menjadi
penulis terproduktif walau hanya denan satu tangan.
Dalam
setiap langkahnya mereka bersama-sama mempunyai satu tujuan yaitu, membangun
peradaban lewat dunia literasi. Suatu kumpulan masa yang bercita-cita untuk
membawa diri kepada dunia luar lewat pena, tulisan. Rumah Dunia ini berdiri
atas “roh” yang menggelegar dalam diri seorang Heri yang menjelema dan
berkembang menjadi seorang Gol A Gong seorang peulis produktif di Banten bahkan
di Indonesia yang kini sudah melanglang buana keseluruh dunia. Beliau tidak
sendirian membangun dunia magisnya itu , bahkan setiap orang yang merasa mampu
dan ingin membantu siap menjadi relawan Rumah Dunia tersebut, bahkan seorang
perempuan bernama Tias Tatanka seorang
penulis produktif yang puisinya sudah menjadi primadona mengikuti dan membantu
beliau membangun Rumah Dunia. Dan akhirnya Gol A Gong beserta istrinya, Tias
Tatanka bersama-sama membangun rumah magisnya itu demi impian remajanya itu.
Komunitas ini setia berdiri di ranah Banten dan menyebar virus “Gempa Literasi”
yaitu gerakan kebudayaan menghancurkan kebodohan lewat kata (sastra dan
jurnalistik), rupa (teater dan film), warna (melukis), dan musik. Gempa ini
semacam suara lirih dari para penggiat literasi di seluruh sisi Banten agar
kelak nantinya Banten memiliki calon penerus yang giat untuk memajukannya lewat
tulisan dan membawa Banten keliling dunia. Literasi atau budaya literasi bisa
diartikan sebagai kemampuan membaca atau menulis atau melek aksara, berfikir
kritis dan peka terhadap lingkungan. Komunitas ini berusaha mengubah Banten
lewat kata dan merubah kebiasaan masyarakat Banten yang kurang melirik
keberadaan dunia literasi yang ternyata banyak sekali prospeknya terhadap kita
maupun kemajuan Banten. Tujuannya untuk membuat gerakan revolusioner terhadap
Banten yang sudah berdiri sejak tahun 2000, mengubah dan membawa Banten
ketempat yang lebih layak untuk dihuni dan lebih layak untuk disebut sebuah
provinsi baru yang berkembang pesat. Karena menurut beliau tidak perlu kita
sebagai penghuninya hanya berprestasi dalam dunia politik maupun yang lainnya
tapi Banten bisa mengelilingi dunia hanya dengan sebuah pena dan beberapa
lembar kertas saja, tulisan. Seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq
1-5 yang berisi “tuhan bukan hanya menyuruh kita untuk sholat dan berzakat tapi
juga mewajibkan manusia untuk membaca dan menulis”. Jadi kewajiban kita sebagai
manusia yang beragama pun adalah membaca dan menulis seperti tujuan
didirikannya komunitas ini yaitu, membuat masyarakat Banten khususnya gemar
menulis dan membaca.
Salah
satu misi didirikannya komunitas ini untuk mencerdaskan dan membentuk generasi
baru yang kritis di bumi Banten. Yang berarti juga mengandung filosofi
memindahkan dunia ke rumah lewat buku, warna, rupa, gerak, suara dan internet.
Di rumah magis inilah seluruh masyarakat Banten khususnya dapat tinggal dan
pulang membawa bekal. Karena disinilah kita bebas datang dan menikmati setiap
sudut yang di sediakan Rumah Dunia bahkan sampai menetap disana dan menjadi
relawan membantu semua kegiatan yang berlangsung setiap harinya disana.
Kegiatan Rumah Dunia berlangsung setiap hari sepulang sekolah ; dari pukul
13.00-17.00 Senin-Minggu. Dan untuk anak-anak Senin-Jumat ; wisata gambar,
menulis, berteater, mendongeng, jurnalistik dan musik GRATIS. Di Rumah Dunialah
semua anak-anak di sekitar kampung Ciloang, Serang berkumpul dan bebas bermain.
Lorong waktu bernama Rumah Dunia ini adalah lorong waktu yang mampu membawa
kita kembali mengarungi masa silam sebagai seorang anak. Hal ini terjadi saat
melihat sosok-sosok kecil yang tertawa-tawa, berebut ayunan atau membaca buku.
Anak-anak Rumah Dunia dilahirkan di “kampung” kota. Otomatis letaknya
menumbuhkan perilaku mereka menjadi lebih terbuka terhadap sesuatu, juga tidak
heran dengan setiap perbedaan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Perbedaan
letak “geografis” inilah yang membuat mereka tampak berbeda atau mungkin karena
kampung lain tidak ada Rumah Dunia. Mereka sekarang mendapatkan ilmu dan
keterampilan lebih dan akhirnya Rumah Dunia sampai saat ini masih eksis untuk
memajukan dan membangun Banten lewat tulisan bukan hanya di kampung Ciloang, Serang
melainkan seluruh Banten dan seluruh Indonesia. Karena Rumah Dunia adalah
sebuah lorong waktu yang bisa merekontruksi masa kecil mereka. Sebuah tempat
dimana mereka dan kita bisa mengembangkan mimpi-mimpi kecil atau mencoba
kembali dan mencari keping demi keping masa kecil yang masih tersisa dan
mencapainya mulai hari ini.
Menorehkan
sejarah pada dunia dengan pena berarti berbicara tentang multatuli dengan
sejarah yang ia buat lewat karya sastranya yang berjudul “saijah-adinda”.
Padahal multatuli menetap di Rangkasbitung hanya dalam waktu 3 bulan saja. Dan
dalam waktu singkat itu dia mampu menhancurkan nama baik Adipati
Kartanatanegara lewat pena dan beberapa kertas yang ia tulis di sebuah motel di
Brussel, Belgia dalam waktu hanya satu bulan saja. Ini dibuktikan bahwa dengan
pena pun kita bisa mengelilingi dan memahami dunia. Hanya dengan literasi kita
juga bisa berkarya dan menyentuh peradaban. UNESCO mendefinisikan seorang
terpelajar sebagai seorang yang bisa baik membaca dan menulis dengan pemahaman,
pernyataan, singkat dan nyata di kehidupan sehari-harinya. Kemampuan membaca
dan menulis masyarakan suatu bangsa sangat menentukan tingkat kemampuan bangsa
itu. Karena kedua keahlian itu menjadi jembatan untuk menyebrangi informasi,
pengetahuan dan teknologi. Kalimat demi kalimat yang kita susun dengan pena itu
tidak akan bermakna apabila kita tidak memiliki kemampuan literasi (membaca,
menulis) dan literasilah yang membuat kehidupan ini berdenyut.
Rumah
Dunia selalu menampung semua kalangan yang ingin belajar dan memiliki keinginan
tinggi untuk mengubah dunia. Komunitas ini selalu menyajikan beragam kebudayaan
dan berjuta terbitan buku yang di terbitkan sendiri oleh GONG Publishing.
Karena disinilah penulis-penulis muda berbakat lahir dan menjadi kupu-kupu
cantik. Karena di rumah magis inilah semua masyarakat yang ingin belajar dan
mengenal selalu diajarkan secara berkala. Dan setiap tahunnya Rumah Dunia
selalu menggelar pementasan akbar dan beberapa pementasan bulanan demi
menampungnya semua kreatifitas anak bangsa.
Dari
sisi Rumah Dunia yang berdiri sudah 10 tahun di tanah Banten, bukan alasan lagi
bagi kita untuk terus berkubang dengan masa lampau yang pernah jaya. Saatnya
otak bukan otot lagi yang kita lakukan. Dengan membangun peradaban baru di
Banten berarti kita juga telah berhasil keluar dari kabut masa lampau dan
berdiri tegap di hadapan matahari. Pengabdiannya untuk Banten di jalur literasi
inilah membuat Banten semakin maju dan berkembang. Peranan dan feedback yang
dapat kita rasakkan sekarang adalah, banyaknya para insan muda lintas kalangan
yang sukses dan berhasil mewujudkan kepingan masa kecilnya di sini, Rumah
Dunia. Karena menurut beliau Rumah Dunia adalah surganya dunia dalam rumah
magis yang memuat seluruh pelosok dunia. Karena Rumah Dunia sebagian dari kita
bisa mengenal budaya literasi. Semoga Banten terus berdiri dan selalu berhasil.
Dan semoga dengan komunitas literasi ini kita bisa melihat sudut pandang dunia
dengan pena. Bukan hanya dunia yang lain tapi dengan penapun kita bisa membuat
banyak jamur dimana-mana dan mewarnai setiap langkah kita untuk Banten yang
lebih cemerlang. Tumbuhi Banten dengan jamurmu dan siapkan penamu untuk segera
mengelilingi dunia.
Komentar