
daduku berhenti sejenak dalam hal ini, berheni untuk meredam semua cerita yang ku anggap tak penting di bicarakan. cerita ini selalu terulang bahkan untuk kedua kalinya aku berhadapan pada perkataan yang sama, percis. daduku kini berjalan ditempat, sendirian sembari tertidur dijalan yang basah sampai pada akhirnya mencintai senja dan kesendirian saja. itu saja cukup. padahal kini aku pperlahan percaya bahwa daduku berjalan searah karena aku lihat matamu jujur tapi sama saja. lalu yang aku lihat kemarin sore di rumah saudaramu itu apa? hanya tatapan kosong yang dingin atau senyum didalam pipimu yang sedikit tidur diterpa sinar sore itu? aku melihatmu menerima sebuah buku itu, sebuah buku yang aku selipkan sebuah foto untuk berterimakasih, hanyha itu. tapi nyatanya dadu ini bukan dimiliki oleh seorang yang diam, statis. malah ternyata dadu ini lebih baik berjalan sendiri sambil berhenti sejenak melupakan pemain dadunya itu, biar saja. oh ya, rindu pelangiku datang lagi sampai di ujung hujan itu
Komentar