16 Sept 2012

*perjalanan, senja, kereta api, mereka lalu kita*

tidak ada kata baru selain kata yan gharus diucapkan ketika pertemuan itu berlangsung. pertemuan kedua setelah bulan kemarin dan pertemuan pertama semenjak 25 agustus lalu. perjalanan itu sendu, ya sangat sendu. tak banyak bicara tapi hanya bisa merindu sambil memandang kota yang perlahan berjalan cepat, kereta api. tidak ada kata "semoga saja" atau "coba saja seperti" tapi aku hanya sedikit berbisik pada keramaian di luar jendela bahwa aku merindu, merindu apapun itu dengan sifat aslinya tanpa harus diubah atau "coba kamu...", tidak. perjalanan itu tidak pernah direncanakan, bicara padamu saja aku tidak. tapi semoga pertemuan ini memang sudah direncanakan tuhan. sampai aku bertemu denganmu itu memang sudah direncanakan. "hai angin bisa tolong sampaikan rindu ini padanya dan tolong pastikan hari ini bisa terus diingat, pertama kali". kita tak akan pernah tahu apa isi hati manusia lain, termasuk sepasang mata yang tepat ada di hadapannya sekarang yang sudah berusaha memasuki hati lalu berpegangan tangan erat, sore itu.
senja itu,
senja itu selalu aku rindukan, senja yang aku lalui bersamanya diantasa pohon besi sambil menatap matamu lekat. itu ternyata senja terindah selama ini sampai saat ini entah besok. senja itu selalu merindu, merindu dalam tatapmu. walaupun pertemua itu terjadi hanya setengah dari hari, tapi senja melukiskanmu dalam benak dan melukiskanmu dalam senja-senja berikutnya untuk tetap diingat. hanya sendiri di dini hari yang sepi dalam senja. aku hanya perlu dimengerti.....

*tulisan yang tertunda lama sekali sampai pada akhirnya cerita yang kutulis ini hilang, hingga orang yang kusebut ini meninggalkan senyum begitu saja tanpa berpamitan sembari menatapku. tulisan yang harusnya kau lihat dengan mata berbinar tapi harus kau liaht lagi dengan cerita yang berhenti hanya karena jarak yang tak pernah kau suka atau mungkin aku sekalipun.*
17dec12

Komentar