Di Balik Benteng Surosowan - short story




            Sejak dia hilang tiba-tiba, 2 tahun lalu, aku pikir itu adalah akhir dari segalanya. Namun ternyata aku salah. Di balik benteng Surosowan-Serang, kau muncul dan kembali menggetarkan semua perasaan yang sempat mati.
****
            Pagi itu langit begitu cerah tersenyum dengan sedikit hiasan embun di sekitar benteng Surosowan karena bekas hujan yang turun semalam. Tampak reruntuhan benteng yang masih kuat bekas peninggalan Belanda yang terbuat dari bata dan karang yang sampai saat ini masih bisa kita lihat di Banten lama. Seperti udara pagi yang sejuk seperti perasaanku kini setelah 2 tahun tidak pernah melihat dia, dia yang pernah membuat aku selalu ingin memandangi dan mengharapkannya. Hari ini tidak seperti biasanya, karena pagi ini yang aku ingin lakukan adalah berjalan-jalan sendiri menikmati pagi di benteng Surosowan. Tapi yang aku lihat pagi itu bukanlah sekumpulan orang yang berbondong ingin berjiarah atau sekedar berfoto di benteng Surosowan melainkan sesosok laki-laki tinggi dan “agak” besar sedang mengatur lensa kameranya dan siap untuk mengabadikan gambar disekitar benteng Surosowan dan modelnya. Sosoknya mudah diingat setelah 2 tahun lamanya dia menghilang dan kini datang kembali. Pagi itu matahari pun bersinar cukup terik dan menyoroti kami dibalik benteng saling menatap wajah dan terdiam. Namanya Nanda seorang yang wajahnya selalu aku kenal dan selalu membayangi beberapa hariku sebelum dia menghilang dan kini kembali lagi, lalu menatapku tajam.
****
3 Agustus 2009, 2 tahun lalu
            Dulu aku dan Nanda berkenalan lewat pesan singkat, pertemuan pertama, menyatakan cinta lalu menghilang dengan tanda tanya yang besar. Hanya karena ada nomer telefon tertera pada uang kertas seribu rupiah yang dia dapatkan sehabis membeli minuman di warung dekat rumahnya dan dia akhirnya bisa menghubungiku padahal kita tidak pernah saling mengenal apalagi bertemu. Dari pesan singkat itu kami bertukar cerita dan akhirnya memilih untuk bertemu agar bisa melihat siapakah kita masing-masing. Dari awal pertemuan itulah sebuah perasaan itu timbul sebagaimana rasa seorang perempuan pada laki-laki yang baru dikenalnya. Nyata dan memang benar ternyata rasa itu yang menghampiri setelah 16 tahun tidak pernah jatuh cinta, yaa jatuh cinta. Dan ketika ulang tahunku yang ke 16 dia juga mengirimkan sebuah foto apel yang diukir dengan lilin berbentuk angka 16 diatasnya dan sebuah rekaman suara mengucapkan selamat. Dari malam itu aku merasa seperti istimewa karena kado yang aku terima bukan berupa barang atau ucapan biasa tapi sebuah foto yang aku bisa lihat ketulusannya dan bagaimana dia membuatkannya untukku. Seminggu setelah hari ulang tahun itu berlalu dia menyatakan cinta tapi bukan meminta untuk menjadikan aku sebagai pacarnya tapi sekali lagi hanya menyatakan perasaan tidak lebih. Sebagai seorang wanita aku terlalu dalam dan ternyata aku juga merasakan jatuh cinta, jatuh cinta pada Nanda. Aku hanya bisa memendam setelah kejadian itu, memendam jika aku juga merasakan hal yang sama hanya memendam berarti jatuh cinta sendirian. Dia tidak pernah mengungkit hal itu kembali tapi dia menghilang seperti ditelan bumi. Entah kemana dan sampai kapan kita akan bertemu dan bersapa kembali. Dan dari situlah aku merasa menunggu dan jatuh cinta sendirian. Kenangannya, fotonya dan beberapa lembar diari penuh dengan namanya tersimpan rapih di sudut kamar didalam kotak kecil berbentuk hati bertuliskan “R for remember”. Karena apapun yang terjadi kenangan itu tidak akan pernah pergi.
 Lekat pada ingatanku, Nanda adalah seorang mahasiswa jurusan komunikasi di Untirta yang sangat menyukai fotografi. Seorang yang selalu menemaniku ketika belum terlelap tidur, seorang yang bisa untuk berbagi cerita dan seorang yang selalu mengantarkanku kedalam mimpi indah. Dan tanpa disadari berawal dari sebuah nomer yang tertulis di uang kertas seribu rupiah aku bisa mengenal Andri lebih jauh dan sampai akhirnya aku juga merasakan yang mungkin pernah Nanda rasakan, dulu.
****
2 tahun sudah berlalu dan kini aku melihat sesosok bayangan dihadapanku sambil menatap mataku dalam. Pagi itu aku merasakan darah perlahan berhenti mengalir, suara angin kian berhembus kencang dan aroma sekeliling benteng Surosowan berubah menjadi aroma harum bunga yang baru bermekaran. Ya perasaan 2 tahun yang sempat aku kubur kini datang kembali hadir pada bayangan yang aku lihat sekarang, dihadapanku. Otakku mulai memutar lagu-lagu sendu tentang perasaanku yang kini mulai datang kembali sembari membuka kenangan lama. Datang tiba-tiba lalu kembali dengan perasaan yang sama seperti 2 tahun silam, hanya aku yang merasakannya tapi mungkinkah dia juga merasakan? Entahlah. Aku hanya bisa diam tanpa kata sembari menatapnya lekat-lekat, mencium aroma parfumnya dan melukis wajahnya yang dulu tanpa perbedaan. Dia seorang fotografer  seperti dulu tapi sekarang berbeda, dia kini bersama seorang perempuan cantik, tinggi dan terlihat anggun di lensa kameranya. Perempuan dengan rambut hitam terurai panjang di sinari matahari pagi dan kulit kecoklatan dan bersinar.
“Hey!”.
“Eh, iya”. Aku hanya bisa menjawab sambil tersenyum malu.
“Gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi disini, kamu masih kaya dulu memakai jilbab dan cantik”.
Pernyataan tadi sempat membuat pipiku sedikit memerah membuat darah di setiap lintasannya perlahan berhenti seketika. Raut wajahnya, bahasa tubuhnya, dan suaranya yang merdu masih lekat difikiran sembari berbayang-bayang akan ada kejadian apalagi setelah pertemuan ini, semoga.
“Eh, iya makasih. Kamu juga masih kaya dulu ya masih jadi fotografer handal hehe”.
“Bisa aja kamu haha. Oh iya lagi ngapain kamu disini? Jadi tukang bersih-bersih di sini ya? Haha”.
Tawa itu masih saja seperti dulu, masih riang dan tulus. Dan suara tawanya itu kini membuatku agak lebih merindu daripada dulu. Nada suaranya masih terdengar merdu di telinga sembari menari-nari di fikiran.
“Haha…baru tahu ya kamu? lagi pengen jalan-jalan aja sendiri kesini, sendirinya ngapain?”.
Tahukah kamu kenapa aku pergi kesini? Karena aku merindukanmu, karena tempat inilah yang sering kamu tunjukkan padaku ketika kamu sedang merindukan Mamamu, mamamu yang sangat kau cintai tapi dia sangat jauh darimu. Tempat dimana kamu bisa menyendiri dan mengenang berjuta kenangan, sama seperti aku sekarang. Sendiri, berjalan-jalan kecil sambil membawa kenangan, kenangan dirimu.
“Ini lagi iseng-iseng aja maen kesini sama temen terus dia minta di foto deh hehe”.
“Oh, yaudah aku duluan ya mau muter-muter dulu  sambil nyari makan belom makan nih hehe”.
“Gimana kalau aku sama temen aku ikut cari makan? Belom makan juga nih laper haha”.
****
            Pergantian pagi menjadi siang dengan diiringi semakin teriknya matahari tepat diatas kepala. Semakin membuatku untuk mencoba kembali pulang tapi tanpa sedikitpun terbayang dia, Andri. Tapi mana mungkin? Pulang lalu melupakan kejadian hari ini? Aku tidak bisa, aku tidak bisa. Aku lihat lagi seorang perempuan berambut panjang tadi sambil menghabiskan sisa minuman di gelas. Wajahnya manja dan sangat menarik, riasannya anggun memberi kesan seorang  fotomodel yang sedang naik daun. Tapi siapakah dia? Apakah perempuan itu adalah kekasih Nanda?.
            “Eh Da aku pulang dulu yaa, aku ada pemotretan lagi nih see you yaa makasih buat hari ini jadiin aku fotomodel haha”.
            “Eh iyaa Mona hati-hati yaa, sama-sama see you too”.
            Perempuan itu pergi meninggalkan kami berdua ditempat duduk dibawah pohon besar dekat benteng Surosowan. Angin berhembus sangat kencang seperti ingin berlomba dengan suara jantungku yang kian lama kian cepat. Ternyata perempuan itu bukan siapa-siapa Nanda dan mereka hanya sebatas seorang fotografer degan modelnya tidak lebih. Lega sekali mendengar semuanya itu ternyata perkiraanku salah. Bayangan tubuh semakin terlihat menandakan makin tingginya juga matahari siang ini. Kami berdua hanya saling menatap tanpa bicara satu sama lain. Tatapan matanya penuh dengan canda yang dapat membuat seisi kepalaku tertuju kepadanya dan hanya kepadanya. Apakah harus aku tanyakan kemana sajakah dia selama 2 tahun menghilang? Dan haruskah aku menceritakan bagaimana perasaanku dan bagaimana penantianku selama 2 tahun hanya untuk menunggumu, ya hanya menunggumu Nanda.
            “Kamu tuh masih kaya dulu ya, pasti selalu diem kalo aku ga ngomong haha”. Nanda tertawa lepas sambil membelai kepalaku dan membuatku bersender di bahunya.
            Aku merasa sangat nyaman kali ini, merasa sangat di jaganya dan membuatku merasa hari ini adalah hari dimana Nanda membalas kepergiannya selama 2 tahun itu.
            “Yaa bukan diem tapi bingung aja mau ngomong apa, lagian kamu tuh perginya kenapa ga sekalian selamanya aja? Pergi diem-diem terus dateng lagi” gerutuku kesal tapi senang.
            “Emangnya kamu ga kangen ya sama aku? Haha kalau aku pasti akan selalu kangen sama kamu. Maafin aku ya harus ngilang tiba-tiba”.
            “Terus aku harus bilang apa sekarang ? bilang kalo aku juga kangen banget dan aku selalu nunggu kamu pulang?”.
            “Hahaha kamu ga perlu kasih tahu itu semua, karena aku yakin kamu juga kangen dan pasti nungguin aku”. Tawanya sambil membelai kepalaku sekali lagi.
            Siang ini aku merasa seperti sedang menari-nari di angkasa sambil membawa setangkai bunga mawar untuk aku beri kepada seseorang yang telah datang kembali dengan tiba-tiba di belakang benteng Surosowan. Dia masih seperti dulu, masih sama dan suaranya pun masih bisa aku rasakan di lubuk hati untuk meredam semua amarah dari penantianku. Ya, dan kini dia mengatakannya, kata yang sangat ingin sekali aku dengar dari 2 tahun kemaren sampai sekarang. Penantianku di balik benteng Surosowan, benteng peninggalan Belanda yang berdiri kokoh di tanah Banten. Penantian yang tidak mengecewakan, dan penantian yang tidak pernah sia-sia. Percayalah hari ini, esok dan sampai saatnya itu aku akan berusaha untuk melukis cerita di hari-harimu dan percayalah bahwa aku juga ingin sekali menjadi bagian dari pelangimu.
            Langit berubah menjadi biru pekat gelap dan timbul tetesan berlian air membasahi tanah di sekitar benteng Surosowan. Kami berdua dibalik benteng Surosowan, di bawah tirai hujan dengan semua kenangan yang di campur menjadi satu. Cinta. Di balik benteng Surosowan aku temukan kembali dia yang telah lama pergi meninggalkan semua kerinduan dan di balik benteng Surosowan aku melukis pelangi kembali dengan warna yang lengkap dan pelangi itu adalah kamu, Nanda. Seperti sejarah Surosowan, aku dan kamu juga semoga menjadi sejarah yang akan selalu dikenang hanya didalam hatiku. Untukmu pelangiku yang sempat hilang.
            

Komentar