short story - MIMPI DI UJUNG KOTA

Mimpi di Ujung Kota

            Jalanan yang basah karena hujan semalaman di iringi suara ayam berkokok menandakan waktu pagi tiba. Terlihat sosok perempuan tinggi berambut ikal sebahu dengan pakaian yang sederhana di ujung perkampungan baduy dalam-Lebak. Ia meletakan badannya di tumpukan jerami dekat sawah lalu menatap langit yang mulai cerah. Dibenaknya penuh dengan semua mimpi-mimpinya yang belum terkabul. Menatap langit dan berharap  sudah berjuta kali ia lakukan di pagi hari sebelum matahari terbit.  Kadangkali ia harus merasakan pahitnya kehidupan di kampung pedalaman. Baduy dalam, memang sangat jauh letaknya dari kota dan hampir dari semua warganya pejalan kaki. Panggil saja Inah, gadis desa yang cantik jelita. Ia tinggal bersama Ibunya di Baduy Dalam atau desa Cibeo, semenjak ayahnya meninggalkannya 2 tahun lalu karena kecelakaan. Inah ingat betul pesan terakhir ayahnya itu “Raih mimpi-mimpimu nak untuk bapak”. Dari pesan itulah Inah ingin sekali berangkat ke kota untuk belajar agar kelak cita-citanya menjadi guru terkabul. Umur Inah sudah beranjak 19 tahun di bulan agustus. Dan ia ingin sekali belajar walaupun sebenarnya Inah tak pernah bisa menulis maupun membaca tapi, ia bertekad untuk pergi ke kota menggapai mimpinya itu.
            “Mak, Inah ingin sekali ke kota!”
            “Mau apa nak ? memang kamu sudah bisa membaca ? kamu akan tertipu nanti” sambil menyentak.
            “Justru itu mak, Inah ingin sekali belajar membaca disana biar bisa menjadi guru!”
            “Terserah kamu nah! Emak hanya tidak ingin anak Emak disana di tipu!”
            “Emak, tolong ijinkan Inah pergi ke kota, Inah ingin sekali belajar Mak”
            Satu per satu air mata Inah jatuh membasahi pipinya sampai ia tak bisa lagi membendung ke inginannya untuk pergi ke Kota. Inah memang ingin sekali pergi ke Pandeglang dan bersekolah seperti yang sering ia lihat.
            “Mak, Inah ingin sekali pergi ke Pandeglang ke kota sana lalu belajar membaca dan menjadi guru!”
            “Kamu boleh pergi Nah tapi, hati-hati dan kamu disana harus berhati-hati” sambil memeluk.
            Akhirnya Inah pergi ke kota sendirian dengan berjalan kaki. Digendong sebuah tas yang terbuat dari bambu, di dalamnya berisi makanan untuk perjalanan Inah ke kota “Pandeglang”. Perjalanan yang sangat jauh menuju kota, jalanan yang berdebu membuat nafas Inah sesak dan panas matahari menusuk tulang kecil Inah. Dan inilah keinginannya pergi ke kota untuk meraih impiannya menjadi guru. Sesampainya di ci bengkung yang tak jauh dari Rangkas Bitung.
            Gubbraaggg ..  Tubuh kecil Inah roboh seperti di tiup angin topan besar di hadapannya.
            ………………….. !
“Kamu sudah sadar?” terdengar suara perempuan di telinganya.
            “Ehm, Innah ddiimana ?”
            “Tadi kamu pingsang lalu saya bawa kamu ke rumah saya” sambil membawa segelas air putih.
            “Terimakasih sudah mau menolong Inah”
            “Memangnya Inah mau kemana? Ko jalan kaki?”
            “Inah datang dari kampung Baduy mau ke kota ingin belajar membaca dan menulis supaya bisa jadi guru!”
            Inah tidak tahu bahwa yang menolongnya adalah seorang guru. Saat itulah Inah di ajarkan membaca dan menulis. Tapi apa sangka semua orang menertawakan Inah, seorang perempuan berumur 19 tahun tidak bisa membaca? Haha. Semua orang mencemoh Inah memaki Inah dan saking bencinya warga, Inah sampai di juluki orang bodoh. Entah bagaimana Inah di benci gara-gara ia datang dari kampung atau tidak bisa membaca maupun menulis tapi intinya Inah punya semangat yang tinggi supaya ia menggapai mimpinya itu. Sudah hampir seminggu ia tinggal bersama Ratih guru SD yang menolongnya waktu itu. Tapi apadaya seketika itu mereka harus pindah rumah karena rumah di daerah itu terjadi penggusuran. Mereka tak tahu akan kemana dan akan tinggal dimana yang mereka punya hanyalah fikiran dan baju yang mereka kenakan. Mimpi Inah bukan seperti ini tapi inilah kenyataan yang harus di lewati.
            Inah sedikit demi sedikit sudah mulai lancar membaca dan ia sudah bisa menulis namun Inah dan Bu Ratih harus pindah rumah karena penggusuran. Berjalan kaki entah kemana tujuannya tapi Inah yakin bahwa ia bisa menjadi guru. Terlihat bangunan tinggi berwarna putih dan tertulis “Sekolah Menengah Pertama”. Inah memang berniat untuk bermalam di sana dan ingin sekali belajar ataupun mengajar. Akhirnya mereka berdua bermalam di sekolah itu.
            “Woy!! Ada orang Baduy !”
            “Usir !! mengotori sekolah saja !”
            Pengusiran terjadi untuk kedua kalinya. Ternyata memang sedang ada masalah dengan warga Baduy. Mereka mengira warga Baduylah yang sering mencuri hasil tani mereka. Hasil tani mereka setiap tahun hilang entah kemana dan mereka menuduh warga baduy yang mengambilnya.semenjak kejadian itu para warga mengusirku dan Bu Ratih. Angin berhembus meniupi debu-debu jalanan, mata Inah merah karena sejak tadi mereka berjalan kaki mencari tempat istirahat. Inah bukannya tidak ingin pulang tapi ia berjanji ia akan ke kota untuk mencapai cita-citanya menjadi guru. Diujung perempatan Rangkas dan Pandeglang mereka berdua duduk dekat perbatasan. Wajahnya yang terlihat lesu karena sedari tadi berjalan kaki menerjang teriknya matahari dan debu jalanan.
            “Inah, kamu haus?”
            “Iiia bu Inah haus”
            “Sebentar Ibu lihat dulu apakah masih memiliki uang untuk membeli minum”
            “Loh, memang harus beliya Bu? Di kampung Inah kalau minum gratis”
            “Beda sayang, disini kita harus beli”
            Tenggorokan Inah yang kering seketika luruh dan wajah Inah segar kembali. Bu ratih meninggalkan diri di perbatasan dan menyuruh Inah untuk berangkat sendiri karena Bu ratih sudah tidak kuat lagi berjalan. Akhirnya Inah berjalan menuju Pandeglang kota yang ingin sekali ia datangi sendirian. Sebetulnya Inah memiliki penyakit astma yang sering kambuh bila terkena debu. Sesekali ia sering batuk dan sesak nafas. Inah bertekad untuk menjadi guru walaupun Inah harus menempuh jarak kurang lebih 40 km. Jaman sekarang memang susah sekali mendapat pekerjaan apalagi untuk menjadi guru dan itu semua harus ada prosesnya. Inah tidak mengerti itu yang ia tahu hanyalah pergi ke kota agar menjadi guru sesuai dengan cita-citanya. Baginya di kota itu sama saja dengan kampungya.  Sesampainya di jl. mayor widagdo mata Inah hanya tertuju pada alun-alun kota Pandeglang yang begitu mewah baginya. Matanya berbinar takjub melihat pemandangan yang belum pernah Inah lihat sebelumnya.
            “waaaa, ini alun-alun kota? Bagus sekali”
            Inah tak bosan memuji ataupun terenyuh dalam keindahan itu. Inah memasuki sebuah sekolah di sebelah alun-alun ia berniat untuk belajar dan ingin sekali menjadi guru, karena yang Inah tahu jika kita sudah bisa membaca dan menulis kita boleh menjadi guru. Tapi apa sangka ia di usir mentah-mentah, di ludahi agar cepat pergi dari sekolah itu.
            “Pergi kamu! Orang kampung ingin jadi guru! Haha”sambil meludahi.
Ludah itu ia usap dengan tangan lalu menelan ludah saking herannya. Inah sekarang mengerti bahwa menjadi guru bukanlah hal yang gampang. Bukan hanya dapat bisa menulis dan membaca tapi Inah juga harus bersekolah terlebih dahulu agar bisa menjadi guru.  Inah hanya bisa menangis di dekat alun-alun sambil melempari tanah dengan batu yang ia temukan. Dinginnya angin sore, langit yang sebentar lagi gelap dan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala. Seseorang mengajaknya untuk makan bersama karena kasihan kepada Inah yang sedari tadi tidak berhenti menangis dan terlihat lesu. Inah makan dengan lahapnya karena perutnya semenjak kemarin tak terisi nasi. Inah ingat betul perutnya belum terisi nasi maupun makanan yang enak.
            “Terimakasih pak, sudah mengajak Inah makan”
            “Sama-sama nak, memang kamu mau kemana ko sendirian?”
            Inah tidak menjawab pertanyaan tadi. Kepala Inah yang berputar dan Inah tak dapat menopang badannya. Perutnya terasa mual dan nafas Inah terasa sesak seperti ada yang menghambat di tenggorokannya. Kakinya tak dapat bergerak dan terasa berat seperti rohnya sudah di angkat. Inah sudah tahu bahwa tak lama lagi ia akan pergi. Badan Inah roboh tidak berdaya, ia jatuh tepat di ujung kota dekat persingpangan. Dan Inah menghembuskan  nafas terakhirnya.  Walaupun Inah tidak bisa kembali ke kampung dan menjadi guru tetapi Inah memiliki satu hal yang sangat berharga. Ia kini bisa membaca dan menulis, perjalanan yang panjang yang mengantarkannya ke kota Pandeglang dan semua itu akan Inah bawa sampai di alam sana. Dan satu yang Inah bawa ke alam sana adalah kebahagiaan bebas dan belajar untuk ikhlas. Dan kini Inah menggantungkan mimpinya itu di ujung kota Pandeglang dan disanalah Inah terbaring untuk selama-lamanya sampai ia diantar ke surge. Walaupun mata tertutup tapi mimpi akan selalu dekat dengan kita dan semua yang Inah lakukan itu adalah cara untuk menuju cita-citanya. Mimpi di ujung kota.




BIODATA

NAMA             : DITHA RIZKY SILVANY
NAMA PENA  : GRANDIS SILVANIA
TTL                 : PANDEGLANG, 03 AGUSTUS 1995
ALAMAT        : BUMI CIPACUNG INDAH BLOK F.1
HOBI               : MENULIS, MEMBACA DAN MENYANYI
E-MAIL           : ditha_rizky@yahoo.com
BLOG              : http/ditharizkysilvany/blogspot.

Komentar