SHORT STORY[kado untuk ibu]
Seperti biasa, aku bangun pagi-pagi sekali. Hari ini adalah hari Minggu, jadi aku membantu Ibuku untuk menjual gorengan berkeliling kampung dari pagi hingga sore hari. Ibuku bekerja sebagai penjual gorengan keliling, sejak Ayahku meninggal dunia. Dari situ pula ia harus bekerja keras untuk menyekolahkan aku dan makan sehari-hari. Aku kini tinggal di rumah peninggalan Ayahku. Memang, kondisi rumahku sudah sangat parah. Atap yang sering kali bocor dikala hujan, ataupun lantainya yang masih tanah, dan dindingnya terbuat dari bilik bambu.
Nama lengkapku, Aysha Azzka Rizkia, namun aku sering dipanggil Azzka. Aku bersekolah di SMP Jaya Harapan, kadang kali juga aku sering di beri peringatan, karena aku belum melunasi iuranku semenjak bulan kemarin. Maklum Ibuku hanya bekerja sebagai penjual gorengan, yang penghasilannya hanya pas-pasan. Untuk makan saja belum cukup, apalagi menyekolahkanku.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku selalu membantu Ibuku berjualan. Aku biasanya berangkat ke sekolah bersama sahabatku, Rea Galinary. Ia adalah sahabat karibku sejak SD. Kami pun berangkat ke sekolah bersama. Di dalam perjalanan berangkat ke sekolah, biasanya kami selalu bertukar cerita.
“ Azz…kamu udah mengerjakan PR belum ??”Tanya Rea.
“ Udah dong!!....Memang kamu yang selalu tidak mengerjakan PR!!” sahutku sambil tertawa.
“Uhhuuuu…lihat dong!!...azzka pelitt !! “ Tukas Rea sambil mengomel.
“ Makanya belajar!! Hheee “ Jawabku.
Sesampai di sekolah, aku langsung duduk di bangku paling depan bersama Rea. Selesai pelajaran, kami segera bergegas pulang ke rumah. Karena rumah kami bersebelahan jadi kami biasa pulang pergi ke sekolah bersama-sama. Namun dii tengah perjalanan pulang.
“ Aduh…!! Kakiku tersandung batu!! “ tukas Rea.
“ Ayo sini aku bantu berdiri, makanya kalau jalan yang bener dong!!” jawabku sambil tertawa.
“ Uuuu…bukannya menolong malah tertawa…” jawab Rea dengan nada marah.
“Haahhaaaa!!ohok..ohok…!! sambungku sambil terdesak.
“Tuh makanya jangan ngetawain orang lain!!haaa” tukas Rea sambil tertawa.
Akhirnya setelah insiden jatuh tadi, kami berdua sampai juga di rumah masing-masing. Kami berdua pun berpisah menuju rumah masing-masing. Setelah pulang ke rumah, aku langsung berganti pakaian. Dan langsung membantu Ibu untuk berjualan gorengan . Di dalam perjalanan berkeliling menjajakan gorengan, aku sempat berfikir. Sebentar lagi ulang tahun Ibuku, nanti aku harus memberi apa?. Sedangkan aku tidak mempunyai uang sepeserpun. Di dalam perjalanan pulang, aku masih berfikir, akan member kado apa yang pas untuk Ibu. Rasanya semua barang di dunia ini tidak bisa mencukupi dan membalas kebaikan Ibu selama ini. Ingin sekali aku membahagiakan Ibu. Tapi dengan apa?. Uang saja tidak punya apalagi aku harus membeli barang yang mahal.
“ Husshh..azzka!! melamun saja kamu ini dari tadi..” Sahut Ibu.
“Ehh…iya bu..aku hanya bingung saja “ jawabku sambil terbata-bata.
“ Kamu ini melamun saja…nanti kamu jatuh “ tukas Ibu sambil tertawa.
“ Eh…i.i..ya..bu..” jawabku sambil tersenyum.
Sore berganti malam. Namun fikiran ini semakin merajarela. Kado apa yang pantas untuk Ibu. Sedangkan untuk membelinya aku tidak punya uang. Bgaimana aku harus mencari uang. Aku harus bekerja apa. Sedangkan jika aku menjadi pengamen, pasti Ibu akan marah. Karena seperti orang meminta-minta dan meminta belas kasihan kepada orang.
Malam berganti, di saat itu pula aku berangkat ke sekolah seperti biasa bersama Rea. Di tengah perjalanan, aku masih memikirkan tentang kado untuk Ibu. Semenjak hari ini aku lebih rajin menabung, walaupun tak seberapa. Pagi kali ini, aku tidak membantu Ibu. Karena aku berangkat lebih awal, bagian piket kelas. Sore harinya seperti biasa, aku selalu membantu Ibu berjualan. Namun di tengah perjalanan menjajakan gorengan.
“gubraggg…..”
“ Aduh azzka….dagangannya tumpah!!” Sahut Ibu dengan nada lesu.
“ Ada apa bu?Ibu engga apa-apa?” jawabku.
“Tidak apa-apa….bantu Ibu membereskan dagangan yang jatuh!! “ tukas Ibu sambil berlari mengambil dagangannya.
“Tapi Ibu tidak apa-apa kan?”sahutku dengan nada cemas.
“Tidak apa-apa…ayo kita pulang!!”jawab Ibu sambil menarik tanganku.
Malam pun datang. Selintas aku memikirkan untuk mengamen di jalanan, untuk menambah uang membeli kado untuk Ibu. Dengan hati yang bulat, aku membuka jendela kamarku yang di isolasi karena tidak ada penyekat. Lalu aku mengambil sedikit uang recehan yang ada di celenganku, lalu di masukkan kedalam botol bekas aqua. Lalu aku meloncat keluar jendela kamarku. Malam yang sangat dingin dan mencekam. Maklum di kampungku Sedikit penghuninya. Namun nanti di luar sana warganya berjubel. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju kota. Perasaanku kini takut. Karena aku keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan Ibu.
Setibanya di kota. Tepatnya di perempatan lampu merah. Dimana tempat para pengamen, mencari uang. Aku langsung menyanyi dari satu mobil ke mobil lain. Bernyanyi dengan botol bekas aqua yang di isi dengan uang logam. Namun membawa rezeki. Tiba-tiba ada seorang laki-laki tinggi, besar, dan berjenggot. Menghampiriku, lalu menyeretku jauh dari perempatan lampu merah tadi.
“ Kamu tahu?? Kamu sedang apa disini??” Tanya pemuda itu dengan nada keras.
“ Iya…aku sedang mengamen !! memangnya tidak boleh ?? “ Jawabku polos.
“ Jika kamu ingin mengamen disini, kamu harus menyetor 50% pendapatan kamu setiap hari. Jika tidak celakalah kau, dan jangan coba-coba memanggil polisi !!! “ Sahut laki-laki itu dengan nada kasar.
Semenjak itu aku harus mengamen terus dan menyetor. Kalau aku tidak mengamen lagi, aku akan di bunuh oleh laki-laki itu. Padahal aku sudah tidak mau lagi mengamen. Sekarang aku tahu kenapa Ibu melarangku untuk mengamen. Kini aku menyesal, telah membohongi Ibu. Kini rasanya aku malu, karena aku sudah membohogi Ibu. Kini setiap malam aku harus keluar rumah untuk mengamen, dan membohogi Ibu. Aku bernyanyi dari satu mobil ke mobil yang lainnya. Namun hampir semua hasil mengamenku di ambil. Kini tak mudah bagiku untuk mendapatkan uang tambahan, yang aku perlukan untuk membeli kado untuk Ibu. Harus apa lagi aku kini, untuk mendapatkan uang lebih. Di suatu malam. Ibu melihatku. Aku yang sedang di jalan raya, berjalan dari mobil ke mobil lain, dan mengamen. Dikala itu Ibu sedang menyebrang jalan dan Ibu melihat aku. Lalu Ibu menteretku menjauhi mobil sambil memarahiku.
“ Apa-apan kamu? Mengamen? Untuk apa, apa karena Ibu sudah tidak bisa menghidupimu lagi? Ibu tidak suka jika kamu mengamen, Ibu hanya ingin kamu belajar yang rajin, agar tidak seperti Ibu, hanya seorang penjual gorengan!! “ Sahut Ibu dengan nada marah.
“Bu..kan seperti itu bu!! A..ku hanya ingin…memahagiakan Ibu!” sahutku.
“Mau jawab apa kamu? Membahagiakan apa, dengan meminta-minta di jalanan? Jawab Ibu dengan nada marah.
“tidak, bu. A..ku ha..nya ingin…..” jawabku terbata-bata.
“Ibu semakin tidak mengerti!! Maksud kamu apa?? “ sahut Ibu dengan nada heran.
*BBRRAAAAKKKKKRRRRR…..!!
Ternyata Ibu tertabrak mobil di sebrang jalan. Darah bercucuran di kepala. Aku hanya diam tertatih melihat Ibuku yang berbaring penuh darah karena tertabrak. Duduk lalu berusaha membangunkan Ibu. Tak ada yang membantu, melainkan hanya melihat dan membicarakannya. Apa salahku tuhan?, kenapa ini harus terjadi pada Ibuku. Saat aku tidak bisa membahagiakan Ibu, dan dimana sebentar lagi adalah hari ulang tahun Ibu. Inikah kado untuk Ibu?. Mengapa, ini harus terjadi.
“ De? Ayo kita bawa Ibumu ke rumah sakit!! “ sahut salah seorang warga.
“ Taapii, saya tidak punya uang pak?”jawabku lesu.
“Nanti saya yang bayar, saya harus tanggung jawab karena saya sudah menabrak Ibumu!! Jawabnya ramah.
Akhirnya Ibu di bawa ke rumah sakit terdekat. Aku hanya duduk di lorong dekat UGD, karena tidak di perbolehkan masuk. Termenung dan melamun, memikirkan Ibu yang sedang di tangani dokter. Mungkinkah Ibu akan selamat?. Aku tidak ingin Ibu pergi, Aku belum bisa membahagiakannya. Dan sekarang Ibu masuk rumah sakit gara-gara kelakuanku. Tuhan tolong Ibuku, aku belum bisa membahagiakannya. Aku masih ingin bersamanya. Hampir 5 jam berlalu, aku hanya bisa duduk dan berdoa agar Ibu selamat. Tolong jangan ambil nyawa Ibuku tuhan!!.
“Maaf de, apakah ini Ibumu?”sahut dokter yang keluar dari UGD.
“Iya pa!! Bagaimana Ibuku? Ia tidak apa-apa?”jawabku resah.
“Alhamdulillah, Ibumu tidak mengalami luka serius. Namun hanya perlu di rawat inap untuk memulihkan kondisi Ibumu”jawab dokter sambil tersenyum ramah.
“Terimakasih tuhan!! Engkau menjawab do’aku!”bisikku dalam hati sambil menghela nafas panjang.
Sudah 3 hari berlalu, namun Ibu belum di perbolehkan juga pulang kerumah. Karena kondisinya belum stabil. Aku kini hanya bisa duduk dan memandangi Ibu yang berbaring di tempat tidur. Wajahnya yang pucat dan bibirnya mengering. Karena Ibu susah sekali makan dan masih enggan bicara padaku. Kini apa yang harus aku lakukan?. Hanya pasrah lalu menunggu Ibu untuk bicara lagi padaku!. Yang kini marah karena aku keluar rumah tanpa berpamitan dan mengamen. Setelah beberapa hari, kini Ibu sadar. Lalu menyebut namaku.
“Azzka!!...”sahut Ibu saat sadar.
“Ibu, maafkan Azzka! Aku hanya ingin membahagiakan Ibu!”sahutku dengan nada sedih.
Karena Ibu belum sembuh benar, jadi belum bisa berkata apa-apa. Dan aku kini harus menunggu Ibu. Aku sudah 2 minggu tidak sekolah, karena aku harus menjaga Ibuku. Untung saja semua biaya rumah sakit di tanggung sepenuhnya oleh yang menabrak Ibu waktu itu. Hari terus berlalu, Ibu kini mulai siuman. Ibu kini mulai sadar lalu membuka matanya perlahan dan menghiasi wajahnya yang putih pucat dengan senyuman yang indah. Seperti senyum malaikat yang tertuju kepadaku. Hatiku sangat senang melihat Ibuku kembali pulih.
“Azzka?...kamu tidak apa-apa?”Tanya Ibu dengan nada lesu.
“iya, bu..Azzka baik-baik saja! Bagaimana dengan Ibu, sudah agak mendingan bu?”tanyaku sambil tersenyum.
“Ibu sudah agak mendingan.”jawab Ibu membalas senyum.
Kini Ibu sudah mulai siuman dan di perbolehkan pulang oleh Dokter. Kami berdua pun pulang kerumah. Karena kamipun sudah sangat rindu pada rumah kami yang sudah kami tinggalkan beberapa hari ini. Yaa..walaupun rumah kami sangat kecil dan tidak bagus, tapi menyimpan banyak sekali kenangan kami bersama almarhum Ayah. Setidaknya kami bisa berkumpul kembali berdua di rumah kami. Di dalam perjalanan pulang.
“Ibu…Azzka minta maaf bu..”sahutku dengan nada lesu.
“Yasudah..ini sudah terjadi, pesan Ibu kamu jangan berkelakuan seperti itu lagi! Membuat Ibu khawatir!” jawab Ibu dengan senyuman.
“Iya…bu, aku janji engga akan pernah ngelakuin itu lagi.”sahutku dengan senang.
Kami pulang kerumah dengan berjalan kaki karena kami tidak punya uang untuk membayar angkutan umum. Di dalam perjalanan pulang kami berdua bercerita dan tertawa mendengar cerita semalam. Waktu aku keluar rumah, sampai Ibu berada di rumah sakit. Senangnya lagi, Ibu tidak marahdan hanya tersenyum bahagia. Lalu aku teringat dengan kado untuk ulang tahun Ibu. Bagaimana?. Sedangkan aku sendiri tidak memiliki uang untuk membelikan kado untuk Ibu. Yaa…setidaknya aku bisa membelikan sesuatu barang yang bisa di simpan dan di kenang oleh Ibu tapi, membeli dengan apa?. Aku kini belum bisa membahagiakan Ibuku sendiri yang telah melahirkan aku kini. Tapi dengan apa?.
“Bu, apakah Ibu bangga padaku?.”tanyaku penasaran.
“Ibu bangga denganmu azz…kamu anak Ibu satu-satunya, kamu sudah membuat Ibu bangga dengan semua prestasi kamu!!.” Jawab Ibu sambil tersenyum.
“Tapi bu, aku belum bisa membalas kasih saying Ibu selama ini!! Kado ataupun hadiah!!.”sahutku lesu.
“Tidak nak, Ibu tidak meminta balasan dari semua yang Ibu lakukan untukmu. Tapi Ibu hanya ingin anak Ibu ini tumbuh besar dan menjadi anak yang soleh dan pintar. Hanya itu yang Ibu inginkan, Ibu tidak menginginkan kado atau semacamnya tapi Ibu hanya ingin itu.”sahut Ibu sambil mengelus rambutku lembut.
“Terima kasih ya, bu…Dan maaf jika aku selalu membantah perintah Ibu.”sahutku sambil tersenyum melihat Ibu.
Akhirnya kami berdua sampai ke rumah kami yang letaknya di pojok dekat sungai. Sesampai di rumah, Ibu langsung berbaring di kasur yang sudah usang. Karena Ibu belum sembuh benar, jadi ketika aku berangkat sekolah. Aku harus menyiapkan sarapan sendiri. Dan setiap kali aku berangkat sekolah, aku harus membawa gorengan dagangan Ibu untuk di jual di kantin sekolahku.
“Bu, aku berangkat sekolah dulu yaa!! Diminum obatnya ya bu!”sahutku sambil keluar rumah.
“Iya…kamu hati-hati!”jawab Ibu dari dalam kamar.
Seperti biasa aku berangkat bersama sahabatku Rea. Di dalam perjalanan menuju ke sekolah. Aku teringat lagi dengan kado untuk Ibu. Sedangkan aku sendiri belum punya uang sepeserpun untuk membeli kado. Aku harus bagaimana lagi?. Aku tidak mau mengecewakan Ibu lagi!.
“Azz?..ngelamun mulu! Ada masalah, cerita dong?”tanya Rea penasaran.
“Sebentar lagi Ibuku ulang tahun tapi, aku tidak tahu harus memberi apa? Sedangkan aku tidak punya uang sepeserpun!”jawabku lesu.
“Oh…Saranku, kamu tidak perlu memberi hadian yang kamu sendiri belum bisa membelinya. Mendingan kamu membuat kartu berbentuk hati bertuliskan I LOVE U MOM!, pasti Ibumu sangat bangga!”tukas Rea sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
Ketika waktu pulang sekolah tiba. Aku langsung pergi ke toko di sebelah sekolah. Lalu membeli segulung karton berwarna merah muda. Secepatnya aku pulang ke rumah. Lalu aku masuk ke kamar dan menguncinya erat. Karena tidak ingin Ibu melihat kejutan yang tidak seberapa ini. Mulanya aku menggunting karton berbentuk hati, lalu di dalamnya aku menuliskan kata “ I LOVE U MOM” selamat ulang tahun Bunda!. Yaa…walaupun kado ini hanya berharga seribu rupiah tapi mudah-mudahan Ibu suka. Ulang tahun Ibu bertepatan pada hari dimana semua orang memperingati hari Ibu sedunia. Tepatnya pada tanggal 22 Desember. Sekarang tanggal 21 Desember jam 11.55. Tinggal 5 menit lagi, Ibu berulang tahun. Sebenarnya aku ingin sekali membangunkan Ibu tepat pada jam dua belas nanti. Tapi Ibu sudah tertidur lelap sejak tadi.
“teng..teng..teng…jam wekerku berdering”
Aku mengendap menuju kamar Ibu, lalu menyimpan kertar berbentuk hati itu di sebelah Ibu. Dan aku menciumnya pelan-pelan karena tidak ingin Ibu terbangun, lalu membisikkan “I love u” dengan nada pelan. Setelah itu aku pergi menjauhi kasur ibuku dan menuju kamarku. Aku ingin berterimakasih kepada Rea yang sudah member ide. Lalu aku segera menaiki kasurku lalu tertidur lelap menuju mimpi yang indah. Namun di saat aku sedang tertidur lelap, Ibu datang dan menghampiriku lalu berkata “Ibu juga sayang padamu” bisik Ibu pelan di telingaku dan mencium keningku. Lalu membalas surat berbentuk hatiku dan di simpan di atas dadaku, ketika aku sedang tertidur lelap dan bermimpi indah saat bersama Ibu. Dan aku meminta maaf karena kado yang tidak seberapa. Dan malam ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku. Terima kasih Ibu.
Komentar